Posts

Persimpangan

Inilah saat paling menyebalkan yang pernah ada. Saat perpisahan ada di pelupuk mata. Disaat semua dirasa belum waktunya, Namun saat-saat ini pada akhirnya harus tiba. Ibarat pelayaran, kapal ini telah sampai pada tujuan akhirnya. Lengkap dengan segala perintah nahkodanya. Juga dengan robekan pada layarnya. Belum lagi beberapa luka hantaman ombaknya. Ditambah pengalaman karamnya. Laksana perjalanan, kendaraan ini telah tiba pada tetes akhir bahan bakarnya. Lelah jenuh dengan segala likunya. Ditambah badai dan terik yang menyertainya. Sempurna dengan segala polusi dan kemacetannya. Takkan kuberi sebuah bingkisan, Jika itu artinya kita harus saling melupakan. Takkan kutuliskan sebuah puisi, Jika kita harus berpisah tanpa arti. Doa-doa yang kan selalu terhimpun didalam kalbu, Walau mungkin raga tak bertemu. Dan segala ingatan yang selalu bersemayam dalam hati, Sebagai kado terindah yang kan kita bicarakan nanti. Biarkan hati ini terus berbunga. Rindu menanti saat kita kan kembali bersua. B...

Jadi

Kita sekali lagi tersimpuh di persimpangan malam terduduk saling menatap terpaksa harus berpisah arah dan merelakan genggaman yang kembali runtuh Kita sekali lagi saling mengusap duka menghibur nestapa tapi tetap tak bisa meredakan air mata Di persimpangan malam saling menitip rindu pada langit yang kelabu di deru kendaraan yang membawaku ke tujuan baru tanpa kamu aku masih menyebut namamu dalam doaku dan ia kini jadi kebiasaan baru yang masih belum ku tau bagaimana cara datangnya dan bertahannya bila ini yang mereka sebut cinta maka mungkin memang ia mas, aku sering bertanya apa memang kah kau jawaban tiap pinta? apa kah kepadamu surga ku dititipkanNya? atau kau adalah guru terbaik yang Ia kirimkan bernama pengalaman? jadi kau yang mana, mas? 

Malam

Aku selalu tau ujung tiap malam itu pagi Tapi rasanya kali ini bumiku berotasi dengan perlahan dan tak pasti Aku tak tau lagi berapa jam dalam sehari Ia tak lagi menggenapi hari Aku hanya berharap Pemilik malam memberi kita tenang Tentang semua resah dalam menelusuri malam yang begitu tak kita sukai Karna yang kusuka saat malam hanyalah angkasa yang melukiskan bintang bintang Aku harap kau bukan lagi angkasa Aku mau kita jadi satu di savana Duduk disana dan menghabiskan malam Menghitung jajaran bintang Menghubungkan asa dan perlahan menggapainya dari savana Aku mau savana adalah rumah kita bercerita bahagia dan gulana yang atapnya adalah warna favorit kita Aku harap malam jadi tempat kita meminta, di satu malam yang lebih baik dari 1001 bulan Kalau kudapatkan, akan kupinta keajaiban Agar kita melihat senyum wajahNya di keabadiaan pagi Tidak di savana lagi Tapi di tepian sungai yang airnya selembut susu dan semanis madu yang waktunya tak bertepi dan detiknya tak pernah berhenti

Hujan

Lewat hujan, sekali lagi aku diajari,  bahwa tiap rintiknya telah tercatat bahwa ia memang harus di hadapi Dan itulah yang harus kuhadapi, beserta seluruh safarnya, dan seluruh doa doa didalamnya Bahkan penundaanmu juga tercatat disana Alasan kau menghindarinya agar kau dihindarkan pula dari derasnya hujan Agar hanya rintik lembut saja Tapi tetap kau dapatkan jumat, safar, dan doa Dengan cara paling lembut Dari yang Maha Lembut Yang Maha Baik dan Mencintaimu sebelum kau mencintannya Yang Mencintaimu dengan benar bahkan disaat kau begitu bersyarat dalam mencintainnya

Kirana

Masih di savana namun awan perlahan tertiup pawana Ada rembulan disana mengintip sedikit dari angkasa taukah kau?  bahwa sisi bulan selalu sama saat menghadap bentala tak pernah berbeda sejak jutaan tahun lamanya

Pasir

Ia terduduk menatap senja, memejamkan mata dan mendengarkan debur ombak. Angin barat membelai gaun nya lembut dengan cahaya jingga sesekali menembus melalui kain seputih susu.  Dirabanya butiran pasir putih dengan rona keemasan yang memantulkan tiap indah cahaya lembayung senja. Ia bertanya tentang bagaimana setiap butir pasir, melalui perjalanan yang begitu menantang, untuk berakhir di sebuah pantai.  Perjalanan panjang melewati lautan , dalam dan begitu keras arus bawah laut membawanya menjelajahi mungkin hampir separuh dunia. 'Apa mungkin kau pernah menyelam ke Mariana?' gumamnya menatap lautan.  Sesekali mungkin bertemu dan singgah di terumbu karang, bertemu banyak bintang laut dan bermacam hewan bercangkang keras, terkadang badai di lautan dalam mengangkatnya dan mengijinkan ombak mengantarnya ke belahan dunia yang lain, terus melewati semua liku lautan dalam dengan sabar, tanpa menyadari bahwa semua arus itu adalah perjalanan yang harus dilalui untuk menuju pantai....

Tapi

Dalam teduh pejam aku membatu. Terperangkap semu yang dirantai ragu. Sebut saja aku jalang tanpa nalar. Hanya mampu menggodamu dibawah ingar bingar alam bawah sadar. Seolah pilu menjadi sasaran untuk mengeluhkan kesah. Diantara salah yang terlanjur kuanggap petuah. Padahal akulah dalang diantara resah yang telah singgah. Andaikan kata lebih angkuh dari airmata. Andaikan kamu mendekapku dalam dilema. Andaikan genggam mengecoh segala curiga. Dan andaikan aku tak berandai terlalu lama, Karena sejatinya, Aku benci menjadi yang pasti dalam ragu.