Persimpangan
Inilah saat paling menyebalkan yang pernah ada.
Saat perpisahan ada di pelupuk mata.
Disaat semua dirasa belum waktunya,
Namun saat-saat ini pada akhirnya harus tiba.
Ibarat pelayaran, kapal ini telah sampai pada tujuan akhirnya.
Lengkap dengan segala perintah nahkodanya.
Juga dengan robekan pada layarnya.
Belum lagi beberapa luka hantaman ombaknya.
Ditambah pengalaman karamnya.
Laksana perjalanan, kendaraan ini telah tiba pada tetes akhir bahan bakarnya.
Lelah jenuh dengan segala likunya.
Ditambah badai dan terik yang menyertainya.
Sempurna dengan segala polusi dan kemacetannya.
Takkan kuberi sebuah bingkisan,
Jika itu artinya kita harus saling melupakan.
Takkan kutuliskan sebuah puisi,
Jika kita harus berpisah tanpa arti.
Doa-doa yang kan selalu terhimpun didalam kalbu,
Walau mungkin raga tak bertemu.
Dan segala ingatan yang selalu bersemayam dalam hati,
Sebagai kado terindah yang kan kita bicarakan nanti.
Biarkan hati ini terus berbunga.
Rindu menanti saat kita kan kembali bersua.
Berjabat tangan dan kemudian berbicara.
Segala hal indah yang pernah terjadi di dunia.
Dan di tepi Telaga Kautsar saat nanti kita kan bercengkrama.
Izinkan aku mengucap terima kasih padamu.
Karena pernah mewarnai hari-hariku.
Sekaligus permintaan maafku.
Jika ada hal yang menyakiti hatimu.
Dan sebuah senyuman manis yang kan selalu kau rindu.
Bukti kasihku yang tak pernah lekang oleh waktu.
Seperti kata Sapardi, "aku mencintaimu. Sebab itu aku takkan pernah selesai mendoakanmu."
Begitulah diriku, mendoakanmu selalu.
Comments
Post a Comment