Posts

Showing posts from February, 2023

Hujan

Lewat hujan, sekali lagi aku diajari,  bahwa tiap rintiknya telah tercatat bahwa ia memang harus di hadapi Dan itulah yang harus kuhadapi, beserta seluruh safarnya, dan seluruh doa doa didalamnya Bahkan penundaanmu juga tercatat disana Alasan kau menghindarinya agar kau dihindarkan pula dari derasnya hujan Agar hanya rintik lembut saja Tapi tetap kau dapatkan jumat, safar, dan doa Dengan cara paling lembut Dari yang Maha Lembut Yang Maha Baik dan Mencintaimu sebelum kau mencintannya Yang Mencintaimu dengan benar bahkan disaat kau begitu bersyarat dalam mencintainnya

Kirana

Masih di savana namun awan perlahan tertiup pawana Ada rembulan disana mengintip sedikit dari angkasa taukah kau?  bahwa sisi bulan selalu sama saat menghadap bentala tak pernah berbeda sejak jutaan tahun lamanya

Pasir

Ia terduduk menatap senja, memejamkan mata dan mendengarkan debur ombak. Angin barat membelai gaun nya lembut dengan cahaya jingga sesekali menembus melalui kain seputih susu.  Dirabanya butiran pasir putih dengan rona keemasan yang memantulkan tiap indah cahaya lembayung senja. Ia bertanya tentang bagaimana setiap butir pasir, melalui perjalanan yang begitu menantang, untuk berakhir di sebuah pantai.  Perjalanan panjang melewati lautan , dalam dan begitu keras arus bawah laut membawanya menjelajahi mungkin hampir separuh dunia. 'Apa mungkin kau pernah menyelam ke Mariana?' gumamnya menatap lautan.  Sesekali mungkin bertemu dan singgah di terumbu karang, bertemu banyak bintang laut dan bermacam hewan bercangkang keras, terkadang badai di lautan dalam mengangkatnya dan mengijinkan ombak mengantarnya ke belahan dunia yang lain, terus melewati semua liku lautan dalam dengan sabar, tanpa menyadari bahwa semua arus itu adalah perjalanan yang harus dilalui untuk menuju pantai....

Tapi

Dalam teduh pejam aku membatu. Terperangkap semu yang dirantai ragu. Sebut saja aku jalang tanpa nalar. Hanya mampu menggodamu dibawah ingar bingar alam bawah sadar. Seolah pilu menjadi sasaran untuk mengeluhkan kesah. Diantara salah yang terlanjur kuanggap petuah. Padahal akulah dalang diantara resah yang telah singgah. Andaikan kata lebih angkuh dari airmata. Andaikan kamu mendekapku dalam dilema. Andaikan genggam mengecoh segala curiga. Dan andaikan aku tak berandai terlalu lama, Karena sejatinya, Aku benci menjadi yang pasti dalam ragu.

Keajaiban

'Bukankah pecinta ridha tentang apa-apa yang di inginkan oleh yang dicinta terhadap dirinya?' Ujar seorang Ulama tentang hakikat cinta hamba pada Penciptanya Seandainya saja ada keajaiban Dan kuharap ada keajaiban Maka kupinta keajaiban lewat sifat Maha Pengasih dan Penyayang Kumohon lewat sifat Maha Baik dan Lembut Bukan sifatNya yang Maha Adil Ku pinta keajaiban lewat jalanNya yang paling lembut Ku mohon keajaiban lewat jalur paling tak beronak Ku mengiba padaNya agar mengasihani kita di kefanaan dan keabadiaan Tapi bantulah aku  Dengan istighfar mu Dengan prasangka baik mu  tentang takdir yang paling kau hindari itu Dan bantulah aku Sembunyikan tiap rindu Walau begitu menggebu Jangan tanyakan aku Karna aku juga rindu Tahanlah ia walau begitu sendu Karna aku tau sinyal rindu Walau tak kau beri tahu Dan kau pasti tahu Walau tak ku sampaikan itu

Tetap

Angkasa mengerti, Bahwa hamparan bumi Selalu menantang untuk dijelajahi Bila memang savana ingin pergi, Walau belum bisa menemani Angkasa selalu merestui Dan menanti pada kesetiaan yang hakiki Tak apa Luapkan saja Kendati aku belum memahaminya Kan kurangkul agar semuanya reda Jika nanti sang badai menerpa Takkan kubiarkan kau sendiri merawat luka Datanglah kapanpun kau menginginkannya Dan menetaplah selama apapun yang kau suka Bilamana seisi bumi membuatmu gontai Kemarilah, kan kubuat hatimu kembali damai Kau kan rasakan kehangatan yang takkan pernah usai. Bila sewaktu-waktu kau kehabisan kata Tataplah angkasa Ia akan mengirimkanmu berjuta aksara Menerangi malammu yang gulita Barangkali, angkasa hanya bisa memberimu cinta Selagi tersisa, ambil saja seluruhnya Tak perlu khawatir bila kelak akan melukainya Karena angkasa ingin kau bahagia Dan bila sang masa Mengizinkan kita untuk bersama Percayalah bahwa indahmu tetaplah sama Dalam setiap sudut tatap yang kupunya Seandainya saja ada keaj...

Kembara

yang ku tau aku memang hanya hamba dan kau pun hamba dan kita tak punya kuasa untuk mempercepat masa Tapi aku sepertinya mau mencoba mengurangi lara dengan menyembunyikan duka memperbanyak doa  mengejar cita apa saja agar masa tak terasa maukah kau mencoba? meski tak tau apa nanti hasilnya apakah kita menatap pagi dengan bergandeng tangan hingga membuat mentari iri atau apakah kita menatap pagi dengan tak bersama lagi apapun maukah kau berjanji? jangan runtuh karna savana tak membenci angkasa dan kuharap kau tetap bersahaja di atas bentala meski nanti hanya saling menatap kejauhan kita pasti bisa  bukankah kita memulai bahkan dari tak saling tatap? :)

Tanda tanya

Kusampaikan pada senja Bahwa aku menginginkannya juga Tentang seluruh cerita Dimana akulah muaranya Sungguh, aku tak tau harus apa Karena masa nampaknya suka Menyiksa kita lebih lama Ingin kukatakan padanya Bisakah kau tak usah berkata? Aku sungguh benci ucapannya Yang membuat lara di antara kita Kau bertanya apakah kita bisa? Kujawab dengan helaan nafas saja Karena hanya kau yang tau jawabannya :(

Kendala

Aku terduduk di petala Menggumamkan banyak tanya Tentang babak perbincangan kita Di episode yang kesekian kalinya Aku dan kamu kerap bertanya Tapi seperti dijawab oleh udara Anehnya kita paham bahwa Tiap tanya hanya bisa dijawab oleh masa Tapi kita tetap bertanya Dan pada akhirnya berakhir luka Kau dan aku saling menggenggam duka Tanpa bicara Karna kutau di sudut mana Kau sembunyikan air mata Dan kau tau di mana Ku menyembunyikan nestapa Aku ingin bicara Tentang hiruk pikuk jakarta Dan kau ceritakan penat kerja Atau sesekali tentang mereka Tanpa teringat luka Tanpa memendam tanya Tanpa menghiraukan masa Apa kita bisa? :(

Kelana

Kau bertanya tentang jingga di savana setelah senja Masih  bisakah ku melihanya? Tanya kau penuh harap Aku tak berteman dengan esok, jawabku Waktu bagi kita tak linear Dan ia seperti sedang berputar tak tentu arah mengular Aku kira aku kenal malam Dan kupikir aku bintang Atau setidaknya aku harap aku bintang Apa mungkin aku bulan? Yang tertutup awan Aku suka awan Tapi tidak disaat malam Aku harap bumi berputar cepat aku rindu cahaya pagi yang mengungkapkan langit biru dan awan putihku

Tazki

Ada nama yang abadi di dalam doa, tapi tak bisa diabadikan dalam buku nikah. Aku dan kamu, hapal cara untuk saling menemukan. Tapi tak pernah paham cara untuk bertahan. Sekelumit kisah sendu menghitam dalam temaram. Menyisakan pilu yang meradang dalam dinginnya malam. Tentang rindu yang lumpuh dalam persimpangan. Dan aku yang luluh dalam ketidakberdayaan. Aku selipkan rapalan frasa dalam hening suara. Di antara temaram yang mengusir jingga dan menenggelamkan bulan, Aku mengiba pada Dzat yang telah menghendaki pertemuan kita. Frasaku terlanjur jadi nadimu, dan menjeda denyutnya bukanlah perkara mudah. Cukup pahami bahwa matematika kita sangat terbatas, sedang milik Sang Pencipta angkanya berlipat bebas. Kali ini, aku berpegang pada pintamu untuk mempercayai kejutan esok hari. Menaruh harap pada arah yang tak menentu nan asing pada konsep bernama kendali. Kita sepakat pada sebuah hakikat; bahwa pendewasaan adalah ikatan iman yang arah geraknya selalu bersama Sang Pencipta. Maka biarlah k...

Tutur

 aku tahu mengapa orang memanggilnya “jatuh cinta.” aku belum mengetahuinya saat menatap mata legam berkilauan milikmu; merasakan degup jantung yang bersorak sorai akan kemenangan restu; merengkuh ujung hatimu yang orang bilang tak bisa disentuh. aku belum mengetahuinya saat kita tertawa bersama di penghujung kisah; menikam duka yang menyelimuti berdua; menggenggam tangan satu sama lain sampai mentari iri melihatnya. aku belum mengetahuinya saat itu semua terjadi. aku baru mengetahuinya saat matamu tak lagi memancarkan sukacita saat melihatku; tanganmu dingin— tak lagi lembut seperti dulu; rahangmu keras dan kata-katamu terlalu rapuh. aku baru tahu mengapa orang memanggilnya “jatuh cinta”— saat kita  r u n t u h. karena semakin dalam kamu merasuki bentala milikku, semakin kejam pula tikaman dari asa-asa yang menangis pilu— kecewa akan akhir dari semua itu. semakin jauh lubang itu,  semakin jauh aku terjatuh,  semakin sakit pula ulu nadiku—  tersayat luka-luka fa...

Kabut

Aku suka angkasa Meski tak bisa terbang diantaranya Meski hanya duduk di savana Dan menatap kejauhan birunya angkasa Dan aku suka angkasa Tenangnya saat pagi masih buta Hangatnya mentari saat waktu dhuha Ketika kau berubah menjadi biru muda Dan walau siang begitu terang Aku tetap suka ketika berganti perlahan  menuju petang dengan sinar yang memudar menjadi keemasan Haruskah kuceritakan tentang senja?  Aku paling suka saat senja Karna aku suka jingga di savana  Walau aku tak berteman dengan lusa Aku meminta ijin pemilik masa Bolehkah aku menyukai angkasa?  tak lama sebentar saja Bila tak bisa Maka kuharap angkasa tetap ada Utuh tak terbelah Kokoh dan bersahaja Dan biar tak mengapa Ku akan duduk di savana Menatapnya Mengagguminya Seperti biasa

Kaki

 Kadang kita lupa hakikat hamba dan kaki kakinya kaki kaki yang menelusuri bumi sesekali menapaki tepi tebing tapi bukan untuk berpijak diatas awan meski kau sangat ingin menari bersamanya memeluk lembutnya membelai rona jingga saat diterpa senja kaki kaki nya menjelajahi dataran melompat kecil diantara rerumputan tapi bukan untuk hidup dilautan apalagi menyelami samudra terlebih palung mariana atau melawan gulungan ombak bukan untuk itu kaki Ia ciptakan ya kan? :) kaki kaki yang menari melewati padang seperti permadani yang ilalangnya menguning terkena sinar mentari maukah kau mengerti? aku lebih suka kau mengerti hakikat kaki kaki yang tariannya tak melewati lautan  Karna air tak bisa mengisi ruang didada seperti udara    aku lebih suka kau mengerti hakikat kaki kaki yang tak melompat menuju awan Karna diatasnya kau tak akan bisa berpijak

Tua

 Usia. Terkadang membuat kita lupa. Bahwa kita telah dewasa. Usia. Terkadang membuat kita alpa. Bahwa kita telah melanggar titah Sang Pencipta. Usia. Terkadang membuat kita hina. Bahwa kita hanya manusia. Tak punya apa-apa. Seonggok daging tak berguna. Tetapi usia. Kadang membuat kita merasa. Bahwa Allah tak melihat harta dan rupa. Melainkan karakter di dalam jiwa. Tempat paling mulia di dalam raga. Maka dengan usia ini, Membawamu pada hari ini. Hari yang membuat lingkunganmu bersuka lagi mensyukuri. Hadirmu ditengah dunia ini. Sebagai awalmu yang penuh potensi. 29 November, Ya, datang sudah hari ini, Hari dimana kamu dilahirkan. Bertambah satu usiamu di hari ini. Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun? Pentingkah saling melempar kue yang tak termakan? Perlukah kita membiarkan diri berfoya foya? Kadang, Hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman. Maka merenunglah sejenak di hari kelahiranmu. Karna kamu sudah bertambah dewasa sekarang. Tiada yang aku berikan padamu Selain...

Kaca

Aku suka sastra Karna berhasil memeluk frasa dengan banyak rangkaian alinea Menjadikan ia miliknya Satu satunya Aku suka sastra Karna bisa menyembunyikan luka Menyamarkannya Hingga kasat oleh mata Aku suka sastra Karna bisa kututupi tiap rasa Yang berkelindan dalam asa Agar tetap rahasia Aku suka sastra Tapi aku lebih pilih kau saja karna kau memberi kata nyawa dan kau terbangkan menuju kita Aku suka sastra Karna bisa kau rangkai jadi jutaan makna bagi mereka Tapi kau jadikan bagiku satu satunya

Tentang Kenapa yang Tak Pernah Ada Jawabnya

Ini mengenai sebuah pertanyaan;  mengapa mencintai tanpa rencana dan berpikir? Tak sadarkah engkau,  jika mencintai tanpa rencana adalah sesuatu yang istimewa? Dan bukankah cinta tanpa berpikir mampu membuat cinta seperti tiada akhir? Kenapa kau beranggapan aku tidak mencintaimu? Padahal kau sendiri masih menyimpan perasaan itu meski tiada satupun yang tau. Kita takkan pernah bertukar posisi. Walau nyatanya kita tak pernah saling mengisi. Yang aku tau,Rasa itu tak pernah jatuh,  ia hanya tertuju kepadaku. Perihal sakit yang kau rasa, tak pernahkah kau berpikir? Betapa hancurnya aku saat mengetahui telah melukaimu tanpa sengaja? Mengapa kau meminta waktu  untuk membawaku menemui sosok yang baru? Tak sadarkah atas ulahmu,  kau telah membatasi gerakku untuk melangkah ke arahmu. Namun aku dihadang oleh sang waktu yang kau kirim lewat doamu. Ini tak mudah. Mencoba menerka hati yang tak pernah jujur adanya. Sudahlah. Kini lakukan saja semaumu. Dan biarkan aku melepasm...