Tua

 Usia.

Terkadang membuat kita lupa.

Bahwa kita telah dewasa.


Usia.

Terkadang membuat kita alpa.

Bahwa kita telah melanggar titah Sang Pencipta.


Usia.

Terkadang membuat kita hina.

Bahwa kita hanya manusia.

Tak punya apa-apa.

Seonggok daging tak berguna.


Tetapi usia.

Kadang membuat kita merasa.

Bahwa Allah tak melihat harta dan rupa.

Melainkan karakter di dalam jiwa.

Tempat paling mulia di dalam raga.


Maka dengan usia ini,

Membawamu pada hari ini.

Hari yang membuat lingkunganmu bersuka lagi mensyukuri.

Hadirmu ditengah dunia ini.

Sebagai awalmu yang penuh potensi.


29 November,

Ya, datang sudah hari ini,

Hari dimana kamu dilahirkan.

Bertambah satu usiamu di hari ini.


Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun?

Pentingkah saling melempar kue yang tak termakan?

Perlukah kita membiarkan diri berfoya foya?


Kadang,

Hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman.

Maka merenunglah sejenak di hari kelahiranmu.

Karna kamu sudah bertambah dewasa sekarang.


Tiada yang aku berikan padamu

Selain doa dan rasa cinta yang tulus.

Yang akan selalu memberi warna bahagia.

Dalam setiap jejak waktu yang selalu mengiringi langkahmu.


Ini hanyalah sebuah untaian doa.

Harapan agar Allah menganugerahkan malaikat-Nya.

Agar senantiasa menjagamu dalam bimbingan-Nya.

Malaikat terbaik-Nya yang akan selalu menjaga.

Karena aku takkan bisa melakukannya seutuhnya.

Walau aku akan selalu berusaha.


Aku berdoa semoga hadiahmu berupa kekuatan hati.

Sehingga segala luka dapat kau hadapi.

Dan segala badai dapat kau lewati.

Walau tertatih tubuhmu yang bertopang pada dua kaki.


Selamat ulang tahun aku ucapkan.

Biarpun tak semahal berlian.

Meskipun tak sewangi bunga mawar.

Dan tak seindah rangkaian puisi.

Hanya kalimat sederhana yang merangkum semuanya.

Dengan doa di setiap katanya.


Bagai kepak sayap burung pulang.

Perkasa di selasar bintang.

laksana camar menjelajah riang.

Selami laut penuh seringai menang.


Kuharap, engkau belumlah petang.

Yang hanya duduk membatu menatap usia yang berdentang.

Engkau sejatinya adalah pelukis masa mendatang.

Bagai senyum berpendar dengan beribu kunang-kunang.

Hingga gulita malam tak lagi terbentang.


Selamat menjadi dewasa, aku ucapkan padamu, Tazkiyatan Isria.

Semoga bahagia selalu ada dalam jiwa dan raga.

Jadilah seorang pengembara.

Yang senantiasa tangguh menjelajah luasnya lima benua.

Tak gentar menerjang ganasnya ombak samudera.

Dan terbanglah bebas di indahnya cakrawala.

Laksana burung garuda yang perkasa nan sentausa.

Menjunjung cita luhur nusa dan bangsa.

Hingga tiba saatnya mereka yang mengenangmu dalam ingatannya.


Bukan, aku tidak menulis puisi ini.

Anganku yang berimajinasi tentangnya.

Aku tidak bisa memberikan yang lebih.

Karena belum waktunya aku menembus serdadu yang menjagamu, kemarin dan hari ini.

Tapi, besok lusa, aku akan siap, selalu.

Mungkin aku memang bukan yang kau harapkan.

Tapi, aku berusaha untuk selalu ada.


Barakallah fii umrik, Tazkiyatan Isria!



⌚๐Ÿš€

Waktu adalah hidup

Waktu adalah kesempatan

Waktu adalah catatan kehidupan.


Selagi masih ada waktu, berarti masih hidup.

Selagi masih hidup, berarti masih punya kesempatan.

Selagi punya kesempatan, berarti bisa menulis catatan kehidupan.


Selamat menuliskan catatan kehidupan yang baik dan membanggakan!


Jangan lihat hadiahnya, tapi lihatlah sesuatu yang dibawanya. Semoga suka ya!


Barakallah fii umrik, Tazkiyatan Isria!


Comments

Popular posts from this blog

Penggolongan Obat Jantung