Pasir
Ia terduduk menatap senja, memejamkan mata dan mendengarkan debur ombak.
Angin barat membelai gaun nya lembut dengan cahaya jingga sesekali menembus melalui kain seputih susu.
Dirabanya butiran pasir putih dengan rona keemasan yang memantulkan tiap indah cahaya lembayung senja.
Ia bertanya tentang bagaimana setiap butir pasir, melalui perjalanan yang begitu menantang, untuk berakhir di sebuah pantai.
Perjalanan panjang melewati lautan , dalam dan begitu keras arus bawah laut membawanya menjelajahi mungkin hampir separuh dunia. 'Apa mungkin kau pernah menyelam ke Mariana?' gumamnya menatap lautan.
Sesekali mungkin bertemu dan singgah di terumbu karang, bertemu banyak bintang laut dan bermacam hewan bercangkang keras, terkadang badai di lautan dalam mengangkatnya dan mengijinkan ombak mengantarnya ke belahan dunia yang lain, terus melewati semua liku lautan dalam dengan sabar, tanpa menyadari bahwa semua arus itu adalah perjalanan yang harus dilalui untuk menuju pantai.
Ia adalah pasir terbaik yang melewati laut paling dalam, samudra paling tak terjamah, dengan seluruh badai dan tenang nya, hingga gulungan ombak mengantarnya pada pantai.
"Kenapa pasir?", tanya suara disamping wanita itu.
"Kenapa memang nya kalau pasir?" balasnya sambil tersenyum lembut.
"Pasir kan tak istimewa, banyak, dan serupa", tegas suara disamping wanita itu.
"Apa yang istimewa harus selalu terlihat 'tidak serupa'? Terlepas ia banyak, aku suka ceritanya tentang samudra dan ombak-ombak yang menolongnya sampai pada kita, atas ijinNya. Lewat pasir lah pantai itu ada, nyaman untuk dijelajahi tanpa alas kaki, tak menyakiti seperti batu. Aku suka warnanya yang putih, kontras dengan tiap debur kecil ombak yang biru di siang hari, dan berubah keemasan saat terkena senja. Pasir menyejukan mata, mengingatkanku pada Pencipta yang Maha Indah''
Comments
Post a Comment