Tazki
Ada nama yang abadi di dalam doa, tapi tak bisa diabadikan dalam buku nikah.
Aku dan kamu, hapal cara untuk saling menemukan.
Tapi tak pernah paham cara untuk bertahan.
Sekelumit kisah sendu menghitam dalam temaram.
Menyisakan pilu yang meradang dalam dinginnya malam.
Tentang rindu yang lumpuh dalam persimpangan.
Dan aku yang luluh dalam ketidakberdayaan.
Aku selipkan rapalan frasa dalam hening suara.
Di antara temaram yang mengusir jingga dan menenggelamkan bulan,
Aku mengiba pada Dzat yang telah menghendaki pertemuan kita.
Frasaku terlanjur jadi nadimu,
dan menjeda denyutnya bukanlah perkara mudah.
Cukup pahami bahwa matematika kita sangat terbatas,
sedang milik Sang Pencipta angkanya berlipat bebas.
Kali ini, aku berpegang pada pintamu untuk mempercayai kejutan esok hari.
Menaruh harap pada arah yang tak menentu nan asing pada konsep bernama kendali.
Kita sepakat pada sebuah hakikat; bahwa pendewasaan adalah ikatan iman yang arah geraknya selalu bersama Sang Pencipta.
Maka biarlah kini hadirmu tak lagi menjadi mimpi.
Namun doaku akan selalu abadi.
Comments
Post a Comment