Tutur
aku tahu mengapa orang memanggilnya “jatuh cinta.”
aku belum mengetahuinya saat menatap mata legam berkilauan milikmu; merasakan degup jantung yang bersorak sorai akan kemenangan restu; merengkuh ujung hatimu yang orang bilang tak bisa disentuh.
aku belum mengetahuinya saat kita tertawa bersama di penghujung kisah; menikam duka yang menyelimuti berdua; menggenggam tangan satu sama lain sampai mentari iri melihatnya.
aku belum mengetahuinya saat itu semua terjadi.
aku baru mengetahuinya saat matamu tak lagi memancarkan sukacita saat melihatku; tanganmu dingin— tak lagi lembut seperti dulu; rahangmu keras dan kata-katamu terlalu rapuh.
aku baru tahu mengapa orang memanggilnya “jatuh cinta”—
saat
kita
r u n t u h.
karena semakin dalam kamu merasuki bentala milikku, semakin kejam pula tikaman dari asa-asa yang menangis pilu— kecewa akan akhir dari semua itu.
semakin jauh lubang itu,
semakin jauh aku terjatuh,
semakin sakit pula ulu nadiku—
tersayat luka-luka fakta bahwa;
kita
hanyalah
kata.
Comments
Post a Comment